Orang Yang Paling Beruntung Mendapat Syafaat

 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah SAW: Orang yang paling beruntung mendapat syafaatku dihari kiamat adalah yang mengucapkan Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan Selain Allah), ikhlas dari hatinya atau dari dirinya” (Shahih Bukhari)

ImageTausiah Al Habib Faishal Al Kaff dari Jeddah dan diterjemahkan secara ringkas oleh Al Ustadz Syahrullah

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala Yang telah mengumpulkan kita dalam majelis mulia ini, yang talah menghadirkan jasad dan ruh kita dalam mejelis ini, majelis yang mengikat hati kita dengan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang jika bukan karena majelis ini kita tidak akan keluar dari rumah-rumah kita, kita keluar dari rumah kita hanya untuk hadir di majelis yang mulia ini, majelis yang terikat pula dengan majelis-majelis yang ada di Tarim, majelis yang selalu mendapatkan pandangan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala. Maka hadirkanlah hati kalian dalam majelis ini dengan niat yang baik sehingga kalian mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala, dan penuhilah hati kalian dengan kecintaan yang besar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena orang yang mendapatkan bagian dari kecintaan kepada Rasulullah hanyalah orang yang mempunyai perhatian besar terhadap dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

” Tidaklah beriman kalian sampai aku lebih dicintai oleh kalian dari pada orang tua, anak, dan segenap manusia”

 

Maka dengan kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalamm kita akan mendapatkan rahmat terbesar dari Allah subhanahu wata’ala. Namun untuk mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita harus mengenal beliau, karena tidak mungkin kita mencintai seseorang kecuali jika kita mengenalnya, maka dengan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kita pun harus mengenal beliau. Majelis ini diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala karena terikat dengan majelis-mejelis para shalihin yang di Tarim, mudah-mudahan Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada kita ni’mat syukur atas nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Hadirin sekalian, ingatlah bahwa dalam setiap pundak kita ini menanggung tanggung jawab yang besar terhadap dakwah ini, bertanggung jawab dakwah terhadap keluarga, tetangga dan masyarakatnya. Terlebih lagi yang hadir di majelis ini kebanyakan dari kalian adalah kaum pemuda, yang mana tidaklah tegak agama ini kecuali diawali oleh para pemuda. Para pemuda di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw beliau adalah salah seorang anak muda yang membela dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu pula istri beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sayyidah Khadijah Al Kubra Ra yang telah menyelimuti beliau ketika beliau ketakutan setelah beliau menerima wahyu dari Allah, dan yang membantu dakwah beliau dengan dirinya dan segala hrat yang dia miliki, kemudian sayyidina Abu Bakr As Shiddiq dan sayyidina Umar bin Khattab Ra, dan sayyidina Utsman bin Affan yang membela dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka semua adalah para pemuda. Maka korbankanlah jiwa kalian untuk tegaknya dakwah mulia ini, mudah-mudahan kita mendapatkan keberkahan dari Allah subhanahu wata’ala. Disebutkan dalam sebuah syair:

بَذَلْتُ لَكَ رُوْحِيْ وَالرُّوْحُ رَخِيْصَةٌ وَمَا تِلْكَ إِلَّا هَدِيَّةُ اْلفُقَرَاءِ

“Kuberikan ruhku untukmu, dan ruh adalah sesuatu yang murah dan itulah hadiah dari orang-orang yang fakir”

Ruh meskipun merupakan hal yang berharga namun menjadi sesuatu yang murah jika dikorbankan untuk Allah dan Rasul-Nya, yang mana jika ada sesuatu yang lebih berharga dari ruh pastilah akan dikorbankan untuk Allah dan Rasul-Nya (dakwah di jalan Allah). Maka jika engkau mengorbankan atau menjual ruh kalian sungguh yang akan membeli adalah Allah dan akan membalas pengorbananmu dengan balasan yang sangat agung sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

(التوبة : 111 )

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” ( QS. At Taubah : 111 )

Yang mana di dalam surga itu ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka semua yang mencintai beliau akan mengorbankan segala sesuatu untuk mendapatkan bagian itu. Dan jadikanlah syiar kita semua sebagaimana syi’ar Tsauban Ra yang berkata : “wahai Rasulullah, surga yang aku tidak melihatmu di dalamnya maka itu bagiku bukanlah surga”, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Habib Ali Al Habsyi dalam qasidahnya :

فِيْ جَنَّةٍ مَا شَاقَنِيْ مِنْ وَصْفِهَا # إِلَّا أَنَّ الْحِبَّ فِيْهَا خَيَّمَا

Dan tiadalah sesuatu yang lebih menggembirakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali dalam setiap pundak pecintanya mengemban tanggung jawab dan memperhatikan akan dakwah yang telah beliau bawa, hal yang sangat beliau jaga dan perhatikan, sehingga suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata karena begitu berpegangnya beliau akan risalah yang dibawa oleh beliau dari Allah subhanahu wata’ala, beliau bersabda :

لَوْ جَعَلُوْا اْلقَمَرَ عَنْ يَمِيْنِيْ وَالشَّمْسَ عَنْ يَسَارِيْ عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلَكَ دُوْنَهُ

“ Jika mereka menjadikan bulan di tangan kananku dan matahari di tangan kiriku, supaya aku meninggalkan (dakwah) ini, sungguh aku tidak akan meninggalkannya hingga agama ini tegak atau aku mati karena (membela jalan)-Nya “

Maka janganlah kalian pulang dari majelis seperti ini kecuali dengan semangat yang tinggi untuk membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan janganlah terpedaya oleh tipu daya dunia yang hanya sementara, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” 

Untuk urusan dunia tersebut mereka menjual agamanya, yang mana dunia itu adalah Sesutu yang tidak berarti dan tidaklah sebanding dengan balasan yang akan diberikan Allah kelak di akhirat, maka eratkan hubungan kalian dengan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh manisnya hubungan antara makhluk dengan Allah jauh lebih mulia dari segala sesuatu yang ada di dunia ini, kelezatan iman jauh lebih nikmat dari segala kenikmatan di dunia ini, maka apakah kita telah merasakan kelezatan dan manisnya rasa iman itu?! dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.”

Maka dapatkanlah ketiga hal tersebut di dalam majelis-majelis seperti ini. Dan kita tidak mengetahui di majelis mana kita akan mendapatkan fath, maka janganlah pernah melewatkan majelis ini karena bisa jadi di hari yang kita tidak hadir ternyata di hari itu tersimpan rahasia-rahasia yang tersembunyi, kebaikan-kebaikan untuk diri kita. Suatu hari Ibn Al Faridh yang lagi mencari seorang syaikh (guru) unutknya, ia melihat seseorang tua yang berwudhu namun dia melihat ada yang kurang dalam wudhunya, ketika itu dia ingin menasihatinya namun dia enggan karena khawatir orang tua itu akan mengatakan sesuatu atas dirinya, namun dia bersikeras untuk menasihatinya karena hal itu berkaitan dengan hukum syariat, mualilah dia mendekati orang tua itu dan berkata : “wahai tuan, barangkali cara berwudhu’ yang lebih benar adalah begini, maka orang tua itu menoleh dan berkata : “wahai Ibn Al Faridh, syaikh yang engkau cari ciri-cirinya seperti ini..”, subhanallah ternyata rahasia itu tersembunyi dalam nasihat yang disampaikan oleh Ibn Al Faridh kepada orang tua itu. Mungkin saja jika Ibn Al Al Faridh tidak memberikan nasihat tadi, dia akan tetap bertahun-tahun dalam mencari syaikh untuknya, tentunya bukan hal yang mudah namun semua adalah pertolongan dari Allah. Maka jadikanlah dalam setiap majelis itu adalah waktu diberikannya anugerah dari Allah untuk kita, namun hindarilah untuk menghadiri majelis ini hanya karena kebiasaan dan tanpa dilandasi dengan niat yang baik, agar kita mendapatkan bagian yang besar dari Allah subhanahu wata’ala.

وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tausiah Al Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa

Assalamu’alakum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur yang telah mengangkat jiwa dan sanubari kita menuju kepada puncak-puncak keluhuran, puncak-puncak kebahagiaan, puncak-puncak cahaya-cahaya keindahan Ilahi yang abadi, yang dengan kehadiran kita di tempat ini membuka rahasia cahaya kebahagiaan yang kekal, yang menghapus dan meruntuhkan sedemikian banyak kemurkaan Allah sebab perbuatan-perbuatan kita yang telah lalu, yang membuat Allah subhanahu wata’ala ingin segera melemparkan kita ke dalam api neraka, namun karena kehadiran kita di malam hari ini dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala, Allah mengangkat nama-nama kita menjadi hamba yang dimaafkan, hamba yang diampuni, hamba yang dibimbing pada keluhuran, hamba yang dibukakan baginya segala pintu rahmah, segala pintu cahaya, segala pintu inayah, segala pintu ma’rifah, sehingga setiap nafasnya tertuntun dalam keluhuran, dalam kebahagiaan, dan tidak lepas dari hal-hal yang mulia, dan ketika ia terjebak dalam dosa ia segera ingin kembali kepada pintu terbesar dari seluruh rahmat Allah, yaitu “ Laa ilaaha illallah”, yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika ditanyakan oleh Abu Hurairah Ra : “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling beruntung yang mendapatkan syafaatmu di hari kiamat?”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”

Maka hujjatul islam wabarakatul anam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani berkata di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa karena itulah kalimat ini selalu diajarkan oleh ulama’ untuk diulang-ulang dan terus direnungkan kedalaman maknanya, karena seluruh makna alam semesta berpadu dalam makna kalimat ini, karena seluruh rahasia alam semesta sebelum diciptakan, setelah diciptakan dan setelah sirna kesemuanya berpadu dalam kalimat ini, segala sesuatu dari hal-hal yang terlihat, yang terdengar, semua bentuk dan sifat, serta semua ciptaan Allah yang ada di alam ini tidak terlepas daripada kalimat “Laa ilaaha illallah” . Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam kitab Adab Al Mufrad, yang menukil hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana Rasulullah bersabda bahwa nabi Nuh berwasiat kepada putranya :

يَا إِبْنِيْ أُوْصِيْكَ بِكَلِمَتَيْنِ :”سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ وَلَاإِلهَ إِلَّا اللهُ

“ Wahai anakku, aku berwasiat kepadamu dengan dua kalimat : “ Subhanallah wabihamdihi, dan Laailaaha illallah”

Karena kalimat “Subhanallah wabihamdihi” adalah shalatnya seluruh makhluk Allah dan Allah memberi rizki kepada semua hamba-Nya dari kalimat “Subhanallah wabihamdih” kalimat itu mensucikan Allah, mengangungkan Allah, meluhurkan Allah, memuliakan Allah, sungguh Allah tidak butuh untuk dimuliakan, tidak butuh untuk disucikan, tidak butuh dipuji namun Allah menjadikan terpuji orang yang memuji Allah, membuat tersucikan orang yang mensucikan Allah, membuat mulia orang yang memuliakan Allah. Oleh sebab itu orang yang banyak mensucikan dan memuji Allah maka Allah akan limpahkan rizki, dan semakin banyak yang berbuat demikian maka akan semakin Allah limpahkan rizki secara hissi dan ma’nawi, zhahir dan bathin di dunia dan akhirah.

Adapun kalimat yang kedua yaitu “Laailaaha illallah”, jika kalimat ini ditimbang dengan seluruh alam yang ada maka kalimat ini akan lebih berat, karena seluruh kalimat tidak ada jika tidak ada Allah subhanahu wata’ala, maka berpadu seluruh kejadian, seluruh sifat dan pemikiran, seluruh ketentuan yang pernah terjadi atau yang akan terjadi kesemuanya tidak akan pernah terlepas dari rantai dan kekuatan kalimat “Laailaaha illallah”, maka inilah kalimat yang terkuat, kalimat yang terdahsyat, kalimat yang terluhur dan kalimat inilah yang telah disabdakan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Barangsiapa yang mengucapkan “Laailaaha illallah” dari dasar hatinya atau dari dirinya, maka dialah orang yang paling beruntung yang mendapatkan syafaatku”.

Semoga Allah subhanahu wata’ala memulikan hari-hari kita dengan keluhuran, dengan cahaya dan kemuliaan Laailaaha illallah, dengan barakah Laailaaha illallah, dengan terbukanya pintu-pintu keluhuran dari kalimat Laailaaha illallah, dan mengalirnya air mata taubah dengan kemuliaan Laailaaha illallah, dan kerinduan kita kepada sang pemilik Laailaaha illallah, Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah membuka seluruh hati kita untuk rindu kepada Allah, rindu kepada Rasulullah, Ya Rahman Ya Rahim, alihkan seluruh sanubari kami yang hadir di majelis ini, yang hadir di streaming website di segala penjuru untuk mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan memuliakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dengan hal itu mereka akan sampai kepada mahabbatullah …

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.

Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah, selanjutnya kita membaca doa khatm Al Qur’an secara singkat dengan membaca Surah Al Ikhlas 3x, dan mu’awwidzatain, dan dilanjutkan doa penutup oleh Al Habib Hud bin Muhammad Baqir Al Atthas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: